Jakarta – Pengurus Inspirasi Peseni Jalanan (IPJ) menggelar rapat penting bersama Ketua Umum IPJ di Hotel Grand Hyatt, Jakarta, Kamis (07 Agustus 2025) pukul 17.00 WIB hingga selesai. Pertemuan tersebut membahas penguatan kembali eksistensi IPJ sebagai wadah perjuangan para seniman dan musisi jalanan, penyusunan minimum program, serta strategi konsolidasi di tingkat lokal maupun nasional.
Dalam pembahasan, Ketua Umum IPJ, Gambar Tubagus Andika mengingatkan kembali sejarah panjang organisasi yang telah berdiri sejak 1986 di Kota Bogor. IPJ lahir sebagai respons atas marjinalisasi seniman jalanan, sekaligus menjadi ruang solidaritas dan ekspresi kolektif. “IPJ bukan hanya rumah bagi musisi, tapi juga bagi teater, seni rupa, tari, sastra, dan bentuk ekspresi budaya lainnya,” tegasnya.
Visi ke Depan
IPJ menargetkan pemberdayaan seniman jalanan secara berkelanjutan melalui seni, pendidikan, dan budaya, serta memposisikan diri sebagai think tank bagi organisasi kesenian jalanan lain.
Program Strategis yang disepakati antara lain:
Sosialisasi ulang IPJ ke komunitas seniman jalanan dan publik luas melalui pendekatan komunitas serta media sosial.
Pendirian sanggar-sanggar seni sebagai sekretariat dan ruang ekspresi kolektif.
Pelatihan seni dan budaya untuk meningkatkan kapasitas artistik dan manajerial anggota.
Konsolidasi antar komunitas dan kolaborasi dengan organisasi budaya tingkat nasional.
Arah Gerakan Organisasi juga menegaskan bahwa IPJ akan memperluas cakupan kerja, menjadi wadah advokasi hak-hak sosial seniman marjinal, serta membangun jaringan dengan organisasi kebudayaan di berbagai daerah.
Tindak Lanjut rapat ini meliputi pembentukan tim kerja untuk pemutakhiran data anggota, penjadwalan kegiatan rutin bulanan, serta penulisan ulang AD/ART sesuai perkembangan zaman.
Sementara itu, Minimum Program IPJ yang dihasilkan dari rapat ini berisi lima poin utama:
Sosialisasi & Konsolidasi – mengenalkan IPJ di berbagai kota dan memetakan komunitas seni jalanan secara nasional.
Pendidikan & Pelatihan – mengadakan workshop seni, pelatihan manajemen, dan pendalaman hak-hak seniman.
Penguatan Infrastruktur – mendirikan sanggar sebagai pusat kegiatan dan memperjuangkan pengakuan legal.
Aliansi & Jaringan – memperkuat posisi IPJ sebagai induk dan jaringan organisasi seni jalanan.
Advokasi & Publikasi – mendorong kebijakan perlindungan ruang publik serta menerbitkan media alternatif seni jalanan.
Rapat diakhiri dengan komitmen seluruh pengurus untuk memperkuat gerakan seni jalanan sebagai bagian penting dari kebudayaan rakyat Indonesia.(*)






