Berita UtamaNews

Gen Z Bersuara Menentang Manipulasi Sejarah di Medsos

JAKARTA – Sejumlah anak muda yang terkumpul dalam Paguyuban Orang-Orang Terdidik (PARODI) menyatakan menolak manipulasi sejarah di Indonesia. Mereka merupakan mahasiswa yang berasal dari sejumlah perguruan tinggi di Jakarta. Salah satu yang menjadi perhatian mereka adalah maraknya narasi-narasi pemutarbalikkan sejarah peristiwa Gerakan 30 September 1965.

Salah satu anggota PARODI, Aleksander mengatakan, saat ini di media sosial banyak bertebaran propaganda terkait peristiwa 1965 tersebut, dimana narasinya menyebutnya Partai Komunis Indonesia (PKI) adalah korban dalam kejadian itu. Menurut Aleksander, propaganda tersebut dapat memecahbelah keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Saat ini, telah banyak tersebar propaganda di media sosial terkait Partai Komunis Indonesia (PKI) yang berupaya memutarbalikkan sejarah atau melakukan manipulasi bahwa seolah-olah mereka adalah pihak yang paling tersakiti atau menjadi korban,” ujar Alexander pada Minggu (11/10/2026).

Narasi-narasi yang beredar di media sosial tersebut dinilai sangat berbahaya karena bertolakbelakang dengan peristiwa yang sesungguhnya. Menurut Aleksander, fakta sejarah justru menunjukkan PKI adalah dalang pembunuhan massal yang terjadi di Indonesia, pascakemerdekaan, dimana korbannya berasal dari berbagai kalangan, mulai dari rakyat biasa, kiai, hingga ulama di berbagai daerah.

Baca Juga :  Densus 88 Tangkap 13 Terduga Teroris di Riau

‘Mereka menjadi korban hanya karena memiliki sudut pandang yang berbeda. Pada saat yang sama, PKI mengambil alih sejumlah posisi kekuasaan di Madiun dan membentuk pemerintahan setempat yang menentang Pemerintah Republik Indonesia—sebuah peristiwa yang kemudian dikenal sebagai Pemberontakan PKI Madiun,” tutur Alexander.

Senada, anggota PARODI lainnya, Ahmad mengatakan, narasi yang menyatakan PKI adalah korban adalah opini segelintir orang yang tak berdasar. Narasi tersebut disebarkan sebagai upaya cuci tangan untuk melepaskan diri dari kejahatan HAM yang mereka lakukan sendiri.

Ahmad menilai, perbuatan PKI tersebut sangat bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila yang menjadi dasar negara Indonesia. Karena itulah generasi muda harus bersuara, mengedukasi publik dan mengungkapkan fakta sejarah yang sesungguhnya, agar publik tidak termakan oleh narasi-narasi hoax yang dapat mengaburkan nilai Pancasila.

“Kita harus menegaskan kepada para generasi muda, bahwa perbuatan keji yang dilakukan PKI adalah fakta sejarah yang tidak dapat dihapus sampai kapanpun. Oleh karena itu, kami mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk lebih peka, kritis, serta mempelajari sejarah dengan benar dan berlandaskan fakta yang sesungguhnya,” tegas Ahmad.(*)

Related Articles